Berita

Kok Bisa? Adopsi AI Tinggi, Tapi Startup AI Indonesia Nyaris Tidak Ada

Dexop.com – Fenomena unik tengah terjadi dalam perkembangan teknologi Tanah Air. Laporan e-Conomy SEA 2025 yang disusun oleh Google, Temasek, dan Bain & Company menempatkan Indonesia sebagai negara dengan adopsi kecerdasan buatan tertinggi di Asia Tenggara. Namun, di balik prestasi tersebut, muncul paradoks besar: jumlah Startup AI Indonesia justru sangat minim. Banyak yang bertanya-tanya, bagaimana mungkin penggunaan AI melesat tetapi Startup AI di Indonesia tidak ikut tumbuh?

Pemerintah melalui Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo) akhirnya memberikan penjelasan. Startup AI di Indonesia ternyata terkendala oleh dua faktor fundamental yang menghambat pertumbuhan: kesenjangan konektivitas dan kurangnya infrastruktur komputasi. Dua hal ini membuat potensi Startup AI di Indonesia tidak berkembang sebagaimana mestinya, meski permintaan pasar sangat tinggi.

Indonesia Juara Adopsi AI, Tapi Startup AI Indonesia Tetap Sedikit

Laporan e-Conomy SEA 2025 menunjukkan bahwa Indonesia merupakan pasar digital terbesar di Asia Tenggara. Aplikasi yang menggunakan AI—mulai dari e-commerce, fintech, transportasi, sampai layanan kesehatan—sudah menjadi bagian hidup masyarakat. Secara penggunaan, AI sudah mendarah daging. Tetapi secara produksi teknologi, Startup AI di Indonesia belum menunjukkan geliat signifikan.

Inilah paradoksnya: Startup AI di Indonesia kalah jauh dari negara lain seperti Singapura, Vietnam, Thailand, bahkan Malaysia yang infrastrukturnya lebih kecil. Dengan basis pengguna sebesar Indonesia, seharusnya negara ini menjadi rumah bagi puluhan hingga ratusan Startup AI besar. Faktanya, pertumbuhan Startup AI di Indonesia berjalan sangat lambat.

Kominfo Ungkap Penyebab Utama: Kesenjangan Konektivitas

Menurut Direktur Jenderal Ekosistem Digital Kominfo, Edwin Hidayat Abdullah, penyebab terbesar minimnya Startup AI di Indonesia adalah ketidakmerataan konektivitas internet.

“Connectivity hanya bagus di perkotaan, cuma secara rata-rata kecepatan ada yang bagus, ada yang belum bagus,” jelas Edwin.

Pernyataan ini menggambarkan kondisi nyata: Startup AI di Indonesia sebagian besar hanya berkembang di kota besar karena internet cepat hanya tersedia di wilayah tersebut. Padahal AI membutuhkan konektivitas berkualitas tinggi untuk:

  • mengirim dan memproses data besar
  • melatih model AI
  • menjalankan layanan real-time
  • melakukan kolaborasi jarak jauh

Tanpa internet stabil, Startup AI di Indonesia kesulitan melakukan R&D, menguji model, dan mengembangkan produk.

Masalah Kedua: Infrastruktur Komputasi AI Masih Kurang

Selain konektivitas, masalah yang menghantam pertumbuhan Startup AI di Indonesia adalah ketersediaan komputasi.

“Nomor dua apa? Computing. Artinya sudah tersedia tempat-tempat seperti GPU atau data center, di mana bisa melakukan computing,” lanjut Edwin.

Untuk membangun model AI berkualitas, Startup AI di Indonesia membutuhkan:

  • GPU high-end seperti NVIDIA A100/H100
  • data center yang mendukung AI computing
  • akses cloud computing murah
  • fasilitas superkomputer nasional

Namun kenyataannya, GPU mahal, data center AI sangat terbatas, dan Startup AI di Indonesia sering bergantung pada server luar negeri. Konsekuensinya:

  • biaya operasi tinggi
  • latency buruk
  • risiko keamanan data meningkat
  • pengembangan produk menjadi lambat

Hambatan ini membuat banyak Startup AI di Indonesia tidak dapat bersaing secara global.

Potensi Ada, Tapi Ekosistem Startup AI Indonesia Belum Kuat

Yang menarik, Indonesia memiliki modal kuat untuk mengembangkan AI:

  • 200+ juta pengguna internet
  • adopsi AI tertinggi di Asia Tenggara
  • segudang talenta muda
  • masalah besar yang bisa dipecahkan AI
  • pasar besar dan siap menerima inovasi

Artinya, peluang Startup AI di Indonesia sebenarnya besar. Tetapi ekosistemnya belum siap karena minimnya fondasi infrastruktur.

Sebagai contoh, beberapa Startup AI di Indonesia yang berhasil mengikuti pelatihan internasional seperti muru-D Singapura menunjukkan bahwa talenta lokal sebenarnya mampu bersaing. Namun keterbatasan fasilitas di dalam negeri membuat perjalanan mereka lebih sulit.

Kesenjangan Kota–Non-Kota: Penghambat Pertumbuhan Startup AI Indonesia

Startup AI di Indonesia terpusat di kota-kota besar. Padahal sebagian permasalahan AI terbesar justru ada di daerah seperti:

  • pertanian
  • perikanan
  • logistik
  • lingkungan
  • pemerintahan daerah

Sayangnya, potensi Startup AI di Indonesia di sektor-sektor tersebut terhambat karena:

  • konektivitas lambat
  • akses fiber minim
  • data center masih jarang
  • 5G belum merata
  • komputasi R&D sulit dilakukan

Jika konektivitas merata, Startup AI di Indonesia akan tumbuh lebih cepat.

Peluang Besar: Pasar Siap Menyerap Produk Startup AI di Indonesia

Walau jumlah Startup AI di Indonesia masih minim, pasar dan kebutuhan sudah sangat nyata. Contoh penerapan AI yang bisa dikembangkan oleh Startup AI di Indonesia meliputi:

1. AI Pendidikan

Tutor virtual, personalisasi kurikulum, dan penilaian otomatis.

2. AI Kesehatan

Diagnosis cepat, analisis radiologi, dan sistem triase digital.

3. AI Agrikultur

Prediksi cuaca, deteksi hama, optimisasi pupuk, monitoring tanah.

4. AI Logistik

Prediksi permintaan, rute optimal, manajemen gudang.

5. AI UMKM

Alat pemasaran otomatis, analisis penjualan, rekomendasi produk.

Dengan pasar seluas ini, Startup AI di Indonesia seharusnya bisa melesat jauh. Permintaan sudah siap—yang kurang hanya dukungan infrastruktur dan ekosistem.

Peran Kominfo dan Pemerintah: Kunci Pertumbuhan Startup AI Indonesia

Untuk mendorong pertumbuhan Startup AI di Indonesia, pemerintah perlu melakukan langkah strategis:

1. Pemerataan Internet Cepat

Startup AI di Indonesia membutuhkan konektivitas kuat, bukan sekadar “internet bisa digunakan”.

2. Membangun GPU Nasional

Negara lain memiliki pusat superkomputer. Startup AI di Indonesia perlu fasilitas seperti ini untuk training model murah.

3. Insentif AI

Mulai dari kredit computing, subsidi GPU, hingga pemotongan pajak untuk riset AI akan membantu lonjakan Startup AI di Indonesia.

4. Sandbox AI

Agar inovasi Startup AI di Indonesia bisa diuji tanpa terhambat regulasi yang kaku.

5. Kolaborasi Universitas–Swasta–Pemerintah

Kolaborasi seperti di negara maju akan mempercepat pertumbuhan Startup AI di Indonesia.

Yakin Bisa? Indonesia Berpotensi Jadi Kekuatan AI Asia Tenggara

Melihat besarnya potensi, seharusnya Indonesia tidak hanya menjadi pengguna AI, tetapi juga produsen teknologi AI. Namun untuk mewujudkannya, tantangan infrastruktur harus diselesaikan.

Jika konektivitas merata dan komputasi AI tersedia dengan harga terjangkau, jumlah Startup AI di Indonesia akan melesat drastis. Karena talenta ada, pasar ada, dan peluang sangat besar.

Pada akhirnya, pertanyaan “Kok Bisa Startup AI di Indonesia Sedikit?” bukan lagi misteri. Jawabannya jelas: fondasi infrastruktur belum kuat. Namun dengan langkah strategis dan kolaborasi nasional, Indonesia bisa berubah dari konsumen teknologi menjadi pemain utama AI di Asia Tenggara.

Artikel Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button